Menu
Semua Artikel
Mengelola Keuangan

Cara Menghitung Gaji Karyawan Laundry: Bulanan, Harian, dan Borongan

8 menit baca 13 September 2026

Bulanan, harian, atau borongan? Masing-masing punya risiko yang berbeda. Ini contoh hitungannya, termasuk kasbon dan lembur.

Penggajian adalah tempat paling sering munculnya salah paham antara pemilik laundry dan karyawannya — bukan karena ada yang berniat curang, tapi karena perhitungannya tidak pernah ditulis dengan jelas sejak awal.

Ada tiga sistem yang umum dipakai. Tidak ada yang paling benar; yang ada adalah yang paling cocok dengan pola kerja Anda.

1. Gaji bulanan tetap

Karyawan dibayar jumlah tetap setiap bulan, berapa pun ramainya.

Cocok untuk: laundry dengan beban kerja stabil, dan karyawan yang Anda ingin pertahankan lama.

Risikonya: di bulan sepi, biaya gaji jadi beban terbesar Anda. Pastikan gaji tetap tidak melebihi sekitar 30% omzet di bulan paling sepi — bukan bulan rata-rata.

Contoh:
  Gaji pokok                    Rp 1.800.000
  Uang makan  26 hari × 15.000  Rp   390.000
  Total                         Rp 2.190.000

2. Gaji harian

Dibayar per hari kerja. Tidak masuk, tidak dibayar.

Cocok untuk: laundry musiman, atau karyawan yang masih percobaan.

Risikonya: perputaran karyawan tinggi. Orang yang dibayar harian cenderung pindah ke tempat lain yang menawarkan seribu dua ribu lebih.

Contoh:
  Rp 85.000 × 24 hari hadir     Rp 2.040.000
  Lembur 6 jam × 12.000         Rp    72.000
  Total                         Rp 2.112.000

Untuk sistem ini, catatan kehadiran adalah segalanya. Kalau kehadiran dicatat di buku dan buku itu hilang, tidak ada cara adil menyelesaikannya.

3. Borongan (per satuan hasil kerja)

Dibayar berdasarkan hasil: per kilogram, per potong, atau per meter.

Cocok untuk: laundry dengan beban naik-turun tajam, dan pekerjaan yang hasilnya mudah dihitung — setrika, lipat, cuci.

Kelebihannya: biaya gaji otomatis mengikuti omzet. Bulan sepi, gaji kecil; bulan ramai, karyawan dapat lebih banyak dan tidak merasa dirugikan.

Contoh tarif borongan:
  Cuci     Rp   700 / kg
  Setrika  Rp 1.200 / kg
  Lipat    Rp   400 / kg
  Gorden   Rp 5.000 / meter

Hasil kerja Ani bulan ini:
  Setrika  480 kg × 1.200        Rp 576.000
  Lipat    480 kg ×   400        Rp 192.000
  Gorden    35 m  × 5.000        Rp 175.000
  Total                          Rp 943.000

Risikonya ada dua. Pertama, kualitas bisa turun kalau yang dikejar cuma jumlah — sebagian pemilik mengatasinya dengan potongan untuk cucian yang harus diulang. Kedua, dan ini yang lebih sering: kalau hasil kerjanya tidak tercatat per orang, sistem ini tidak bisa dijalankan sama sekali.

Yang paling sering jadi sengketa

Kasbon

Kasbon adalah kas bon — uang yang diambil di muka dan dipotong dari gaji. Tiga aturan yang membuatnya tidak jadi masalah:

  1. Catat saat diberikan, bukan saat mau gajian. Mengingat-ingat di akhir bulan adalah sumber selisih paling umum.
  2. Batasi maksimalnya, misalnya 30% gaji sebulan. Kasbon yang melebihi gaji membuat karyawan tak punya alasan bertahan.
  3. Tunjukkan sisanya di slip gaji. Karyawan yang bisa melihat sisa kasbonnya sendiri jarang mempermasalahkannya.

Lembur

Tentukan tarifnya sebelum lemburnya terjadi. Yang umum: tarif per jam dihitung dari gaji bulanan ÷ 173, lalu dikalikan 1,5 untuk jam lembur biasa.

Gaji Rp 2.000.000 → per jam = 2.000.000 ÷ 173 = Rp 11.560
Lembur per jam    = 11.560 × 1,5             = Rp 17.340

Angka 173 adalah rata-rata jam kerja sebulan menurut ketentuan ketenagakerjaan (40 jam/minggu). Anda boleh memakai angka lain, asal disepakati di awal dan konsisten.

Karyawan yang mengerjakan dua jenis pekerjaan

Banyak laundry kecil punya satu orang yang mencuci dan menyetrika. Kalau Anda memakai sistem borongan, tarifnya harus dicatat per jenis pekerjaan — bukan digabung jadi satu angka per kilogram. Kalau digabung, Anda kehilangan kemampuan menjawab pertanyaan paling berguna: pekerjaan mana yang paling mahal bagi Anda.

Tiga hal yang harus tercatat, apa pun sistemnya

Apa pun sistem yang Anda pilih, penggajian hanya bisa adil kalau tiga hal ini tercatat sejak hari kerjanya, bukan dikumpulkan di akhir bulan:

  1. Kehadiran — tanggal, jam masuk, jam pulang
  2. Hasil kerja per orang — untuk sistem borongan, ini mutlak
  3. Kasbon — tanggal, jumlah, sisa

Kalau ketiganya ada, hitungan gaji jadi penjumlahan biasa dan tidak ada yang perlu diperdebatkan. Kalau salah satunya tidak ada, Anda akan menghabiskan akhir bulan menegosiasikan ingatan.

Di Kelola Laundry, ketiganya tercatat otomatis dari pekerjaan harian: absensi, tahapan produksi yang dikerjakan tiap karyawan, dan kasbon. Rekap gajinya lalu tinggal dibaca. Kalau mau melihat sendiri, coba gratis 14 hari.

Baca juga: Cara menghitung harga laundry kiloan · Panduan penggajian karyawan · Panduan absensi karyawan · Panduan karyawan & hak akses